May 30, 2010

Izinkan Aku Mati Sambil Tersenyum

0 komentar
kematian, entah kapan menghampiri
kematian, entah kapan mengunjungi
besok, lusa, atau hari ini? entahlah
barusan saja kulihat gambar mama Laurent yg terbujur kaku di pembaringan
ia dishalatkan, dimandikan, dingajikan
hatiku tersentak
suatu hari aku yg akan ada di sana
kapan?
entahlah! tak akan ada yg dapat menguak rahasiaNya
namun, aku hanya mampu memohon
"Tuhan, jangan dulu ambil nyawaku sekarang. aku belum siap. banyak pertanyaan yg masih belum terjawab, masih ada banyak hal yg belum aku lakukan. aku belum cukup baik untuk jadi berarti. dan aku belum cukup pantas untuk dihadiahi tangisan sebagai pengiringku berangkat ke haribaanMu. Allah, kumohon jangan biarkan dulu aku mati sekarang. berikan aku lebih banyak waktu. aku tidak ingin menyesal. aku ingin mati sambil tersenyum..."

Anything Can Be The Cause Of Your Death

0 komentar
barusan aja aku selesai nonton FINAL DESTINATION 4 (sedikit basi ya? he, maaf???). TRAGIS! SADIS! SUCH A HORRIBLE THRILLER!!! GILA pokoknya! setidaknya 2 hal penting yg aku dapat dari filem itu:

1. ANYTHING CAN BE THE CAUSE OF YOUR DEATH. yeah, ANYTHING!!! sebuah kerikil kecil tajam yg ga sengaja kelindes sesuatu, trus itu mental ke mata kamu, skak mat. kamu habis, kamu mati!!! lantai yg licin, apapun pokoknya.

2. bagaimanapun, we can't runaway from the death!!! if its your time, its your turn. mau mengacaukan takdir? mau mengacaukan pola? ga akan bisa. toh akhirnya, si Nick dan kawan-kawan mati di cafe.

baiknya ALLAH sama kita, Ia tidak membiarkan kita tahu, akan mati dengan apa kita. baiknya ALLAH sama kita, Ia tidak membiarkan kita tahu kapan kita mati. Ia membuat kita tenang menjalani hidup. bayangkan kalo kamu tahu kamu bakal mati karena air? seumur hidup, kamu ga akan mau mendekati air!!!

ALLAH begitu menyayangi kita. yang terbaiklah yang selalu ia berikan kepada kita. ALLAH tidak memberi kita kemampuan melihat kematian seperti Nick. ALLAH sungguh-sungguh menentramkan hati dan hidup kita. SUBHANALLAH!!!

however the day will come. akan ada kematian menghampiri kita. itu yg harus kita pegang teguh. akhir kata, sebagai rasa syukur kita karena telah diberi ketenangan hidup, manfaatkanlah setiap detik waktu kita. setiap detik berharga karena ada batasnya. hiduplah seolah kita akan hidup selamanya di dunia, tapi kita juga ga boleh lupa untuk prepare. kita ga tau kan kapan kita mati??? selamat berjuang!!! semoga kita mati tanpa membawa penyesalan... :D

BETRAYAL

0 komentar
Aku kecewa
Padamu dan pada mereka
Terlebih lagi, aku kecewa padamu
Aku pikir kita sama
Tapi ternyata beda
Kita tak sejalan
Kau ke barat dan aku ke timur
Aku pikir kita berdua adalah asing
Namun tidak!
Hanya aku..
He, aku tidak bisa menyalahkanmu
Segalanya bisa berubah bukan?
Kau telah dewasa, kau berhak melakukannya
Tapi, haruskah kau membiarkan aku seperti ini?
Terasing seorang diri...


Dedicated for the one whom i love so much, my dearly bro (you've betrayed me!!! nyadar ga sih?!>.<)

Piano Guy

0 komentar
Pria piano, bermain piano
Jari-jemarinya menari-nari indah menekan toots piano
Hitam dan putih
Begitu khidmat
Begitu memukau
Aku suka pria piano
Tetap memesona meski hanya dipandang dari balik punggungnya
Ah, pria piano...
Dimanakah engkau berada?
Aku menunggumu
Menunggumu bermain Canon in D untukku...


dedicated for my shining star somewhere in the sky... ^ ^

GANBATE NE!!!

0 komentar
Semua orang berjuang
Kamu berjuang
Mereka berjuang
Kita semua berjuang
Hidup harus berjuang
Supaya kita bisa berarti dan memberi arti
Selamat berjuang kawan-kawan!!!
Allah akan membalas...


dedicated for all my friends who has been working hard all the time to reach their dream
^ ^

Yang Tlah Hilah

0 komentar
Langit, aku tidak tahu, tapi sepertinya ada yang berubah dari perasaanku kepadamu. Ah, entahlah. Segala sesuatu bisa berubah bukan? Dulu aku adalah Laut yang begitu memujamu, dan mengharapkanmu, namun sekarang? Hhh, mungkin aku lelah. Lelah memandangimu yang dilapisi oleh awan megah dan lelah karena terlalu lama aku mencintaimu, namun tak kau balas juga perasaan cintaku ini. Langit, maafkan aku. Kini, kau bukan lagi Dewa Langitku. Semoga kau mengerti bahwa ada hal yang bisa berubah. Semoga kau mengerti, perasaanku padamu bisa berubah. Aku tak menyesal pernah mencintaimu. Kau tetap berharga untukku karena kau telah mengajariku banyak hal berarti, hanya saja kau tak lagi menempati ruang itu di hatiku. Sekarang ruang itu telah kosong, hanya akan aku isi nanti, setelah aku bertemu dengan sang bintang yang akan menggenapi malam-malamku. Selamat tinggal Dewa Langitku! Pergilah, dan aku juga akan pergi meninggalkanmu.

HILANG

0 komentar
terkadang lupa
terkadang khilaf
tahu-tahu saja rasa rindu telah membuncah
aku rindu kembali
menapaki jalanMu
aku rindu kembali
mengurai air mata untukMu
Tuhanku, ampuni aku
yang sering hilang
Tuhanku, ampuni aku
yang tak mampu berkata
yang tak mampu berucap
hanya diam
dalam kelam

Pasrah

2 komentar
merenung dalam ketafakuran
memutar kembali memori
ketika aku berdosa
ketika aku begitu hina dan dina

ya Rab... sungguh sulit menapaki jalanmu yang lurus
begitu berat langkahku berjalan
seolah aku berada dalam keterasingan

ya Rab... tak apa meski mereka membenciku
bahkan ia
jika mesti begini aku menebus segala busuk
jika harus tak diacuhkannya
tapi aku jadi bersih tak bernoda
tak apa...

pintaku hanya satu ya Rab...
jangan sampai tergores luka di hati ini
jangan sampai menetes air mata
biarkan aku hanya tertunduk
tak melihatnya
tak mendengarnya
sampai nanti, selamanya...

Kemana Harus Kupalingkan Wajahku?

0 komentar
kemana harus kupalingkan wajahku?
karena di hadapanku ada kamu
di belakangku ada mereka
dan di mana pun Ia melihatku

kemana lagi harus kupalingkan wajahku
bahkan ketika tertunduk pun
aku merasakan seolah tanah mencaciku

kemana lagi harus kupalingkan wajahku
dari wajahmu?
ah, sungguh aku malu
padamu, pada mereka dan padaNya

Melukis Langit

0 komentar
kemarin sore aku lihat pelangi
membentang di angkasa
melukiskan warnanya
seperti es krim
hmm, lezat!!!
aku langsung tersenyum
lebar, merekah...
hey, itu sangat indah!!!
melukis di langit,
memang siapa yang bisa??
cuma Tuhan yang bisa
Subhanallah...


aaah...
aku juga mau melukis di langit
melukis wajahmu

Hanya untuk Langit Biru

0 komentar
hanya untuk Langit Biru aku tulis puisi ini

kemarin sore aku lihat pelangi
ia dilukiskan tepat di wajahmu, Langit Biru
indah sekali
kau jadi warna-warni
seperti es krim
tapi aku jadi tambah suka

hanya untuk Langit Biru aku buat pengakuan ini
aku cinta kamu...
pernahkah kau dengar kisah tentang laut yang diam-diam mencintai langit?
laut selalu berusaha menggapai langit, maka setiap sore ia membuat gelombang yang tinggi
tapi tidak cukup tinggi untuk menjangkaumu
akhirnya ia hanya bisa mengagumimu dari jauh

ah Langit Biru...
kau tahu? akulah laut itu.
akulah yang selama ini mengagumi dan mencintaimu
tapi Langit Biru, aku bahkan tak tahu apa arti cinta
maka aku tak pernah berani mengucapkan kata cinta kepadamu
karena aku tak akan mampu mempertanggungjawabkannya...

Langit Biru, apalah aku ini?
aku hanya laut, berhakkah aku berbicara cinta???

Menguak Batinmu, Senja

0 komentar
menguak batinmu, Senja
tak semudah menguak misteri bulan
menyelami hatimu, Senja
tak semulus menyelami lautan
apa yang ada di benakmu, Senja?
ketika kita berpapasan di koridor sekolah
lalu kita saling tersenyum malu...
apa yang kau pikirkan, Senja?
Senja, ada pepatah mengatakan (atau itu bukan pepatah? entahlah...)
'kau boleh benci aku, tapi jangan acuhkan aku'

Senja, menyelami lautan hatimu adalah hal yang aku harapkan
maka jangan acuhkan aku...
berhenti begitu padaku...

Terserah

0 komentar
terserah mau kau anggap apa matahari
panas yang menyiksa ataukah kehidupan
terserah kau mau anggap apa hujan
basah ataukah sebuah romansa
terserah kau mau anggap apa hidup
terang, gelap...
namun ingatlah, di dalam gelap kita bahkan masih bisa menemukan terang

. . .

0 komentar
kau, ingatkah ketika kita berpapasan di koridor sekolah siang itu, lalu kita saling tersenyum malu?
atau hanya aku?

kau, ingatkah ketika kita berjalan beriringan, begitu dekat?
atau hanya aku?

kau, ingatkah waktu itu kau duduk tepat di depanku lalu kau tersenyum padaku?
atau lagi-lagi hanya aku?

setelah nanti kita jauh
kau ada di barat
dan aku di timur
akankah di sana kau ingat aku?
atau, sekali lagi, cuma aku?

Dari Hati Paling Dalam Buat Nining

0 komentar
wah ukhti...tulisanmu bagus sekali.
terharu...
iri deh...
kapan aku bisa merangkai kata-kata indah seperti engkau merangkai kata?

keep in writing ya ukhti nining...

wish u be a big writer someday...




n.b: ukhti... tag tulisanmu yang 'my list and i hope it will be added' (eh, bener ga judulnya itu?). aku mau baca semua buku yang telah menginspirasimu. the kite runner itu bagus bgt ya? aku punya tapi belum dibaca. ntar aku baca deh...

That's So You

0 komentar
mmm, aku tak bisa mengucapkan apa-apa
sungguh!
"that's so you", sepertinya sudah cukup melukiskan semua yg ingin aku utarakan
aku rindu kamu
rindu saling bercerita
rindu melihatmu menangis di depanku
kita terlalu dekat, saudaraku sayang
maaf kalau jadinya kita terlalu sering bergesekan
bukan karena apa-apa
aku hanya terlalu sayang padamu
dan kau hanya terlalu berarti untukku
aku banyak kesalahan dan kebodohan
karenanya, aku juga tak ingin kau salah dan bodoh
cukup hanya aku!
maafkan aku, ukhti yg cantik
aku telah menjadi sahabat yg tidak baik untukmu
tapi sungguh aku ingin melihatmu bahagia dan tersenyum
maka, tersenyumlah
bahagialah
jadikan dunia ini milikmu
seutuhnya!
akhirnya, selamat berjuang!
semoga Tuhan memeluk mimpi kita berdua:
berlabuh di UNIVERSITAS INDONESIA dan jadi sahabat, selamanya, sampai ke surga

n.b : ana uhibbuki fillah ukhti,,,

(puisi pertamaku untuk Qori tercinta)

Bulan, Bintang, dan Senja (teman-teman hebat!!!)

0 komentar
Aku suka bercakap-cakap dengan sang bintang. Kau tahu? Hampir setiap malam aku mengobrol dengannya. Mengobrol tentang banyak hal. Baru-baru ini aku bicara tentang seorang Pemuda Piano dengannya.

Bintang: "Dia hebat, tampan, dan rupawan. Permainan pianonya bagus."
Aku: "Yeah, aku tahu."

Kami terdiam.

Bintang: "Dan sepertinya..."

Aku memandangnya lekat-lekat ketika ia tiba-tiba berhenti bicara.

Bintang: "... sepertinya ia menyukaimu."

Aku pun tertawa. Meski demikian, dalam hati, aku mengamini. Sebab aku juga menyukai Pemuda Piano itu.

Demikianlah percakapanku dengan Bintang. Selain dengan Bintang, aku juga senang mengobrol dengan Hujan. Jujur saja, mengobrol dengannya membuatku merasa sangat nyaman. Ketika mengobrol dengan Bintang dan Bulan, aku yang selalu mendengarkan. Tapi ketika aku bersama Hujan, ialah yang mendengarkan aku. Aku senang berkeluh kesah padanya, dan menunjukkan kegalauan hatiku padanya.

Aku: "Doakan aku hujan. Besok adalah hari penentuan itu."

Kataku sore tadi padanya. Ia hanya menimpali dengan senyum yang bermakna, "Pasti!"

Aku: "Kau tahu? Aku sangat ingin itu. Hhh, aku tak pernah merasakan perasaan seingin ini terhadap sesuatu!"

Hujan: "Iya..."

Aku: "Aku benar-benar ingin itu. Dan aku begitu berharap Tuhan memperkenankannya."

Hujan pun lagi-lagi hanya tersenyum. Dan kemudian, aku menangis.

Aku: "Bagaimana lagi aku harus memantaskan diriku di hadapan-Nya??? Sungguh aku tidak tahu, Hujan..."

Aku merasakan tatapan tajamnya padaku.

Aku: "Aku tahu, aku terlalu banyak meminta pada-Nya, sementara aku juga tahu, aku begitu tak tahu diri di hadapan-Nya. Namun, aku masih memiliki harapan dan keinginan, Hujan!!!"

Aku: "Aku mungkin belum melakukan yang terbaik, tapi aku bersumpah, hanya itu usaha termaksimal yang bisa aku lakukan. Aku sungguh tidak tahu lagi Hujan. Aku takut menanti hari esok..."

Lama Hujan terdiam.

Hujan: "Aku mengerti, sangat mengerti. Tapi kau jangan lupa, Ia lebih tahu mana yang terbaik untukmu. Ia jauh lebih tahu, mana yang pantas untukmu, dan mana yang kau butuhkan. Ia tidak bodoh! Percayalah. Asalkan kau yakin pada-Nya, apapun yang terjadi, kau akan baik-baik saja, dan kau akan selalu bisa tersenyum. Oke???"

Bulan dan Bintang pun datang menghampiri kami. Mereka memelukku.

Bulan dan Bintang: "Kami mendoakanmu. Tenang saja... Kau akan bahagia."

Sekarang, dengan perasaan yang lebih tenang (tapi tetap khawatir), aku mencoba memberanikan diriku dalam menghadapi hari keputusan besok. Aku harus kuat. Tidak boleh takut. Aku harus percaya bahwa Tuhan akan melapangkan dadaku dan membesarkan hatiku ketika semuanya tidak lagi sejalan.

Hhh... Aku pasrah. Pasrah padaMu Tuhan...

(Masih dalam rangka memperingati detik-detik pengumuman SIMAK UI 2010)

Aku dan Sang Hujan

0 komentar
Pagi ini aku termangu di taman bunga. Aku tidur terlentang sambil memandang Langit. Kemudian sang hujan datang menghampiriku.

Hujan: "Bagaimana? Sudah kau tahu hasilnya?

Aku: "Belum. Sebentar lagi."

Hujan: "Kau masih takut?"

Aku: "Ya, aku takut. Tadi, temanku, si Domba cerdas, cerita banyak tentang padang rumput kuning itu. Aku tahu Hujan, bukan hanya aku yg ingin ke sana. Ia juga..."

Hujan terdiam.

Aku: "Aku ingin ke sana dengannya hujan. Ingin sekali..."

(memperingati detik-detik menjelang pengumuman SIMAK UI tahun 2010)

Hujan: "Aku tahu."

Ia kembali terdiam.

Hujan: "Berdoalah. Semoga Ia memberi kesempatan pada kalian untuk dapat menikmati rumput kuning di sana."

Aku: "Ya... Semoga..."

(memperingati detik-detik pengumuman SIMAK UI 2010)

Kabar Baik di Pagi Hari dari Sang Hujan ^ ^

0 komentar
Aku menghampiri sang hujan yang tengah bersembunyi di peraduannya. Ia menoleh ke arahku. Matanya seperti bertanya padaku, "Bagaimana?"

Hujan tersenyum. Aku hanya memandangnya lekat. Lama kami saling memandang dan tenggelam dalam bisu.

Aku pun akhirnya tersenyum.

"Aku, sepertinya harus mulai melupakan padang rumput kuning itu, Hujan."

Hujan menatapku dengan tatapan yang tak mampu aku artikan. Tatapannya menghujam ke relung hati, buatku merinding, namun menimbulkan kehangatan di dalam sini. Tiba-tiba ia memelukku dan membelaiku di dalam dekapannya. Aku merasakan dinginnya basah dan juga kehangatan.

"Akan ada gantinya," ucapnya lirih. "Ada sesuatu yang indah yang sedang menanti di hadapanmu sekarang. Tetap semangat!"

Mendengar ucapannya buatku semakin erat mendekapnya.

"Ya, aku tahu. Terimakasih..."

Sparkling Castle

0 komentar
Tengah malam, dan hujan telah berhenti menyapa.

Aku suka berteman dengan sang hujan, sebab ia dan petuahnya begitu menyejukan. Aku beruntung berteman dengan sang hujan, sebab di kala aku butuh kehangatan ia ada dan menyediakannya meski ia sendiri basah.

"Tuhan selalu menginginkan sesuatu dari kita. Bukan untuk diriNya, tapi untuk diri kita sendiri," ia berujar beberapa saat sebelum ia pergi.

"Maksudnya?" aku bertanya.

"Tuhan tahu apa yang kita butuhkan. Terkadang yang kita butuhkan adalah belajar. Belajar untuk ikhlas. Mungkin inilah yang Tuhan ingin kau lakukan terhadap dirimu. Cobalah lihat sekeliling! Betapa banyak orang-orang tidak beruntung, dan kau akan melihat sendiri, sungguh beruntungnya dirimu. Benar tidak?"

Aku mengangguk.

"Terkadang, hal-hal seperti itulah yang lebih berarti."

Ah, hujan...

"Dan memang seperti itulah hidup. Kelihatan kita seperti berkorban, padahal kita sedang membangun sebuah istana megah..."

Dan hujan pun pergi...

Padang Rumput Kuning

0 komentar
Hatiku masih galau. Meski aku telah berusaha untuk ikhlas, aku entah mengapa masih mengingatnya diam-diam. Rasa sakit yang dulu aku rasa, tiba-tiba sekarang terasa. Padang rumput kuning itu, indahnya masih menghantuiku. Aku jadi ingin menangis. Padahal kemarin aku tidak menangis. Dan sang hujan pun merasakan kegalauan hatiku ini.

"Aku tahu, jika hatimu gundah, langit akan kelabu. Makanya, aku tahu..." ucapnya.

Aku hanya terdiam mendengar ucapannya. Lalu kesenyapan menyelimuti kami. Hanya alunan piano dari balik piring hitam itu yang terdengar.

"Kau pernah bilang padaku bahwa kita tidak boleh membatasi usaha kita untuk meraih mimpi,"

"Iya?"

"Lantas, haruskah aku tetap mengejar padang rumput kuning itu?"

Belum sempat hujan menjawab. Namun aku telah berteriak padanya.

"Bagaimana lagi aku harus ke sana?!"

"Bolehkah aku mengejarnya?"

Hujan tersenyum.

"Kau hanya butuh waktu untuk menerima. Tapi kau selalu punya pilihan, ya kan???"

Diam sejenak.

"Kau yang tahu jalanmu..."

(memperingati hari kegagalanku masuk Universitas Padang Rumput Kuning "yeah, kaliah tahu kan itu apa?")

Hujan Di Suatu Pagi

0 komentar
Sudah lama aku tak bersua Hujan. Ah, aku merindukannya. Kemana saja dia selama ini? Aku tahu, sekarang ia pasti sedang ada di belahan bumi utara. Ya, ia sangat suka berkelana, menjelajahi seisi dunia. Tapi aku merindukannya, aku ingin bertemu dengannya.

"Kau ingin bertemu denganku???"

Aku dikagetkan oleh sebuah suara yang tidak lagi asing untukku. Pemilik suara itu tersenyum padaku. Aku segera menghambur ke dalam pelukannya.

"Kau ke mana saja Hujan? Mengapa pergi begitu lama?"

"Kau tahu kan? Aku mengelilingi belahan bumi utara! Di sana sangat dingin, seperti kau ada di dalam kulkas dengan suhu satu derajat."

"Benarkah?" aku bertanya, masih memeluknya.

"Hmm. Tapi gunung-gunung di sana sangat indah. Kau akan lihat banyak gunung berlapiskan salju putih di sana. Sangat indah. Sangat cocok untuk gadis sepertimu yang menyukai warna putih."

Ia diam sejenak. Aku menunggunya berbicara dengan sabar, masih di dalam pelukannya. Aku suka menghambur ke dalam pelukannya. Suka sekali. Meski ia basah, ia begitu menghangatkan.

"Kau harus ke sana suatu saat nanti, Senja."

"Baik. Kau yang ajak aku ke sana."

"Tentu. Nanti akan aku ajak kau ke sana, Senjaku..."

Side Story

0 komentar
Cerita baru dalam hidupku setelah aku lulus SMA adalah menganggur. Sambil menanti lembaran hidupku yang baru sebagai anak kuliahan aku harus menjalani hari-hari penuh kebosanan di rumah. huft! >.<

Awalnya memang bosan sangat, tapi aku memutuskan untuk berhenti mengeluh dan berkata "BETE". Aku memilih untuk menikmati hari-hariku di rumah bersama laptop (yang meski butut) sangat aku sayangi, sebab tanpa dia, duniaku akan tambah boring(bayangkah! tanpanya aku tidak akan bisa mulai update blog, dan tanpanya, aku tidak bisa menulis). Selain bersamanya aku juga tinggal di rumah bersama komik-komik, buku-buku, dvd, dan tv. Bersama mereka, hidupku tidak semembosankan itu. It depends to us to see anything in our life, right???

Selalu ada hikmah di balik segala hal yang terjadi. Berkat menganggur, aku jadi keranjingan komik. Berkat keranjingan komik ditambah denger lagu korea yang melankolis, huhuy, aku kebanjiran ide!!! Ide gila, yang, sumpah, picisan banget!!! But it's ok. Daripada ngehayal ga jelas, lebih baik menulis kan? Perbuatan yang sangat produktif.

Manusia, diakui atau tidak, selalu punya sisi sensitif. Manusia selalu suka dengan hal-hal yang indah. Dan hal yang indah bagiku sekarang adalah... 5 huruf. ^_^

Happy enjoying side story.

GIFT

0 komentar
Di dunia ini tidak ada yang lebih membahagiakan bagiku selain memandang wajahnya.
“Eh, kayaknya aku musti pulang duluan deh. Aku harus ngerjain tugas!!!”

Inilah cinta. Kau selalu merasa ingin berada di dekatnya. Menjaga dan melindunginya. Melihat senyumnya sangatlah penting bagimu. Sebab senyum itu seperti matahari yang menyinari bumi yang memberikan enerji untuk kehidupan semua makhluk. Buatmu ia sangat penting. Ialah pusat gravitasi kehidupan.

“Ah!!! Ngomong-ngomong soal tugas, aku punya tugas banyak di rumah. Aku juga pulang sekarang deh.”

Dan kau akan melakukan apa saja untuk bisa bersamanya.

“Bareng?”

Ya, kau akan melakukan apapun untuk selalu bersamanya.

“Ga-ga usah. Aku bisa pulang sendiri kok…”

Aku bertemu dengannya untuk pertama kali di toko buku. Waktu itu ia terkekeh-kekeh seorang diri sambil membaca komik. Aku yang sedikit terganggu dengan tingkahnya (yang memalukan) mengerling ke arahnya. Ia yang merasakan kerlingan mataku kontan tersenyum kikuk. Aku tidak mengacuhkannya, kembali berkonsentrasi membaca komik yang ada di tanganku. Tapi alih-alih berkonsentrasi membaca, senyum kikuknya malah membayangi pikiranku. Diam-diam aku mencuri pandang ke arahnya. Aku tidak tahu apa yang aku rasakan waktu itu, tapi sepertinya, aku tertarik padanya.

Kami pun bertemu lagi di kasir. Ia mengantri tepat setelahku. Aku memandangnya, ia hanya menimpali dengan tersenyum. Akhirnya, aku pun pergi dari toko buku dengan merasakan desiran aneh di hatiku.

Aku pikir pertemuanku dengannya di kasir adalah pertemuan terakhirku dengannya. Tapi hari itu juga aku kembali melihatnya. Aku melihatnya keluar dari photo box. Jarakku dengannya hanya sepuluh meter. Dari jarak itu aku memerhatikannya. Aku melihatnya mengangkat telepon. Tidak lama setelah mengangkat ponselnya, tiba-tiba ia berlari. Tanpa pikir panjang, aku segera berlari-lari kecil, menembus keramian, mencoba mengerjarnya. Tepat ketika aku berdiri di depan photo box tempat ia mucul, aku kehilangan jejaknya. Aku memandang photo box itu putus asa. Tapi aku menemukan sesuatu di photo box itu. Sepertinya ia melupakan hasil fotonya. Aku celingukan, mencoba kembali mencari sosoknya. Tapi ia sudah menghilang. Aku memandang empat buah foto yang ada di tanganku. Aku tersenyum. Ya, sepertinya aku memang telah menyukainya. Love at the first sight mungkin?

“Maksudnya bareng sampai depan doank!”
Matanya terbelalak. Aku tahu ia kesal.

“Duluan semuanya!!!” Pura-pura tak peduli, aku berlalu meninggalkannya yang sedang memelototiku.

“Kazan!!!” Aku sudah menaiki motorku ketika ia memanggilku.

“Ada apa?” jawabku acuh tak acuh.

“Kenapa kau suka sekali mempermalukan aku di depan orang-orang? Kau tidak lihat tadi mereka menertawakanku, eh?”

Aku tergelak.

Terkadang, disebabkan oleh perasaan cintamu, kau bahkan tidak bisa bersikap manis padanya. Kau memang tidak berlaku kasar, tapi kau malah mempermalukannya. Tapi, inilah sikap termanis yang bisa aku berikan padamu, Senja.

“Hhh…” Senja di hadapanku menghela nafas panjang, tanda putus asa. Biasanya setelah ini ia akan mengelus dada dan berkata, “Sabar, sabar. Aku kan memahamimu Kazan. Sangat memahamimu.”

“Sabar, sabar. Aku kan memahamimu Kazan, sangat memahamimu.”

Tuh kan?

“Aku balik duluan!” uajrnya ketus, lalu pergi, menghilang dari pelupuk mataku.

“Kadang, ada hal yang ga perlu kita ucapkan.”
“Kenapa?”
“Karena semua hal ada waktunya. Mengungkapkan sesuatu juga ada waktunya.”
“Meski itu kata cinta?”
“Meski itu kata cinta.”
“Apakah tidak akan terluka?”
“Apa ada cinta yang membuat kita terluka?”


Itulah cinta, dan itulah Senjaku. Senjaku begitu indah. Meski tangannya tak dapat kugenggam dan tubuhnya tak mampu aku rengkuh, aku bahagia asal bisa mencintainya, sebab hal paling indah dalam hidupku adalah mencintainya setelah aku bertemu dengannya. Aku tahu sekarang, ialah hadiah terindah yang pernah aku dapat seumur hidupku.


(Inspired by song which sung by K.Will feat Eun Ji Won titled Gift)

About me

My photo
"jika kau menerima dirimu apa adanya, maka kau akan melihat dirimu dari sisi lain yang lebih indah" (dikutip dari teenlit 'Confeito')
 

thousand smiles Design by Insight © 2009